Pencarian

Memuat...

Jumat, 18 Januari 2013

Petualangan Sang Kancil (Monyet Berbaju Merah)|Teguran Untuk Manusia


Petualangan Sang Kancil (13):
Monyet   Berbaju   Merah
Kancil duduk termenung. Soalnya hari ini kegiatannya terhambat oleh angin ribut dan hujan. Sewaktu dia berjalan dibawah pepohonan yang lebat dan sunyi, tiba-tiba datang angin kencang sekali. Sebuah dahan lapuk persis jatuh disampingnya, untung dia siap dan tangkas untuk menghindar, kalau tidak, apa jadinya, badannya bisa remuk. Begitulah resikonya dihutan. Hanya satu yang tidak beresiko dihutan yaitu tidak ada banjir. Sebabnya kayu-kayu  hutan menyerap air yang turun, Kalaupun ada genangan hanya didaerah dataran rendah kemudian air terserap oleh akar mengalir ke sungai dan danau. Kancil biasa mengunjungi danau kecil dan sedikit berendam disitu. Dingin. Namun demikian ia harus ekstra hati-hati kalau bermain di pinggiran air atau sungai. Biasanya ada saja yang bertujuan sama: misalnya untuk minum, atau sekadar bermain air. Masih untung kalau berjumpa hewan kecil, kalau misalnya si Raja Hutan alias Harimau atau Macan Dahan, dia pasti ambil ancang-ancang untuk lari.
            Setelah hujan reda kancil mulai melangkah pergi meninggalkan persembunyiannya. Sewaktu makhluk cerdas ini melewati sebuah pohon besar, dia mencium bau khas yang menunjukkan ada makhluk hidup sedang berada diatasnya. Kancil mencoba menengadah keatas. Tapi tiba-tiba makhluk itu berkelebat lari dari pohon satu ke pohon lain. “Satu..,dua, tiga…, wah banyak,” gumam kancil mencoba menghitung.
            “Assalaamu’alaikum..,!” kancil mencoba memberi salam dari kejauhan.
            Salam itu tidak disahut. Mungkin tidak terdengar. Kancil penasaran dan kemudian naik keatas sebuah gundukan tanah tinggi. “Assalaamu’alaikum..!
            Wa’alaikumussalaam,” jawaban terdengar jauh di atas pohon.
            Kancil bergegas turun bukit kecil itu menuju arah suara.
“Nah, kan…pasti ini kelasi, tadi kulihat kalian merah-merah pada kelayapan di atas pohon…” Kancil mulai mengoceh.
            “Alhamdulillaah.., iya aku monyet merah bersama rombongan yang sedang mencari buah-buahan di hutan,” ujar kelasi.
            “wow, kalian mahir betul berloncatan seperti akrobat saja,” kata Kancil keheranan.
            “Iya dong, kami memang mempunyai aktivitas seperti itu. Lagi pula, kalau memang tak ada buah yang dimakan, kadang-kadang kami juga turun ke tanah untuk mencari serangga,” kata Kelasi lebih lanjut.
            Kelasi adalah hewan primata yang hanya terdapat di Kalimantan. Orang Malaysia menyebutnya Lutung Merah, dan orang Banjarmasin menyebutnya Pampulan, sedangkan orang Dayak menyebutnya Jalur Merah. Kelasi mudah dibedakan dengan jenis lutung lainnya karena rambutnya berwarna merah tengguli. Kepalanya mempunyai jambul berbentuk kerucut, sedangkan rambut di sekitar dahi berumbai-rumai. Kulit wjah berwarna kelabu kebiruan, dengan dagu berwarna putih.
            Kelasi sering dijumpai di hutan primer dataran rendah hingga pegunungan sekitar 2.200 meter dari permukaan laut. Kadang-kadang juga dijumpai pada hutan sekunder dekat perkampungan atau persawahan penduduk. Tapi mereka sangat penakut dan langsung menghindar bila berjumpa manusia.
            Saat berjumpa dengan sang kancil, mereka berdialog di dalam hutan primer—hutan lebat dengan pohon-pohon besar—mereka berkelompok dengan jumlah antara  8 hingga 15 anggota.
                “Kalau tadi saya dengar, kalian gaduh sekali ada apa?” Tanya kancil.
                “Oh itu,… kami satu rombongan sedang mengejar-ngejar kelompok kelasi yang lain, sebab mereka menyerang territorial dan wilayah kami. Ya, karena jumlah makanan terbatas, kami mengusir mereka,” ujar kepala rombongan Kelasi menjelaskan.
                “Wah, kalau begitu, kalian senang tawuran juga dong?”
                “Iya, makanya, kalau manusia ikut tawuran kayak kami kan repot,”
                “Maksudnya?”
                “Iya dong, manusia diberikan akal dan fikiran untuk berkarya dan berakhlaq, pandai membuat alat untuk mengolah produk, hal itu tentu tidak dimiliki bangsa primata semacam kami, kalau kami tawuran tidak pakai alat, lha manusia bisa pakai bom segala!” ujar Kelasi.
                “Wah iya ya.. memang itulah kelebihan manusia, makanya mereka harus di didik agar tidak tawuran seperti anda,” ujar Kancil setuju sambil berlalu.

http://catatanlaila6i6.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Sebagai pembaca yang baik silakan tinggalkan komentar anda, dan bila anda mengcopy atau memindahkan seluruh atau sebagian dari catatan ini, tolong sertakan link blog ini kedalamnya.
Terimakasih telah berkenan berkunjung.