Pencarian

Memuat...

Jumat, 05 Juli 2013

Sejarah Pesantren di Indonesia

Kedatangan islam di Indonesia telah banyak memberi pengaruh dalam berbagai aspek kehidupan masyarakatnya. Khususnya di Jawa yang mempunyai banyak sejarah dan kebudayaan yang mengakar. Hal itu bisa berupa budaya, kesenian, ritual, dan pendidikan. Lembaga pendidikan memberikan warna tersendiri bagi sejarah islam di jawa, karena dengan media pendidikanlah ajaran islam disebarluaskan kepada masyarakat. Pengaruh Walisongo tak pernah lepas dari peranan ini, karena merekalah yang mempunyai andil besar terhadap perkembangan agama islam. Pendekatan yang dilakukan walisongo sangat efektif untuk mengajak orang-orang yang kala itu masih beragama hindu-budha. Dengan kebudayaan, kesenian dan tentunya cara yang halus membuat orang-orang lebih simpati dan tertarik.

sejarah pesantren di indonesia

Jika kita mengkaji tentang sejarah budaya Jawa dan pendidikan, maka pesantren merupakan institusi yang tak dapat ditinggalkan. Menurut Dawam rahardjo bahwa pondok adalah hasil penyerapan akulturasi dari masyarakat Indonesia terhadap kebudayaan Hindu-Budha dan Kebudayaan Islam yang kemudian menjelmakan suatu lembaga yang lain dengan warna Indonesia.
Melalui konsep dan model pembelajaran pesantren yang sederhana ini kemudian dilanjutkan oleh para Ulama sampai sekarang. Hal itu menunjukkan keberhasilan Walisongo khususnya Maulana Malik Ibrahim yang pertama kali memperkenalkan pesantren.
1. Sejarah pondok pesantren
Pondok secara etimologis berarti bangunan untuk sementara, rumah, bangunan tempat tinggal yang berpetak-petak yang berdinding bilik, madrasah dan asrama (tempat mengaji atau belajar agama islam).[1] “Pondok” yang biasa dipakai dalam tradisi Pasundan dan Jawa untuk menyebutkan asrama tempat belajar agama islam sebenarnya tidak sama sekali asli nusantara, tetapi merupakan hasil penyerapan dari bahasa arab al funduuq yang berarti hotel atau tempat penginapan, pesanggrahan atau tempat penginapan bagi orang yang bepergian. Hal yang terakhir ini beralasan karena tempat belajar para siswa dalam tradisi Hindu Budha dikenal dengan istilah asyrama dan mandala, bukan pondok (al funduuq).
Adapun term “pesantren” secara etimologis berasal dari pe-santri-an yang berarti tempat santri, asrama tempat santri belajar agama atau pondok. Sedangkan terminologi “santri” sendiri menurut Zamakhsyari Dhofier berasal dari ikatan kata “sant” (manusia baik) dan tri (suka menolong) sehingga santri berarti manusia baik yang suka menolong secara kolektif. Pendapat berbeda dari Prof. John mengatakan bahwa santri dalam bahasa Tamil berarti guru mengaji.
Pendapat berbeda pula datang dari Clifford Geertz berpendapat bahwa santri berasal dari bahasa India atau Sansekerta “shastri” yang berarti ilmuwan Hindu yang pandai menulis dan kaum terpelajar. Ada juga yang berpendapat bahwa saantri berasal dari bahasa Jawa “cantrik” yang berarti seseorang yang mengikuti seorang guru, kemana guru menetap.
Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang unik di Indonesia. Lembaga ini telah berkembang khususnya di Jawa selama berabad-abad. Maulana Malik Ibrahim salah satu spiritual father Walisongo yang meninggal tahun 1419 di Gresik dalam masyarakat Jawa biasanya dipandang sebagai gurunya guru tradisi pesantren di tanah Jawa. [2]
Seperti yang telah dijelaskan diatas, bahwa pesantren adalah institusi pendidikan islam tertua di Indonesia. Dalam catatan sejarah, Pondok Pesantren dikenal di Indonesia sejak zaman Walisongo. Ketika itu pula Sunan Ampel mendirikan sebuah padepokan di Ampel Surabaya dan menjadikannya pusat pendidikan di Jawa. Para santri yang berasal dari pulau Jawa datang untuk menuntut ilmu agama. Bahkan di antara para santri ada yang berasal dari Gowa dan Talo, Sulawesi.
Pesantren Ampel merupakan cikal bakal berdirinya pesantren-pesantren di Tanah Air. Sebab para santri setelah menyelesaikan studinya merasa berkewajiban mengamalkan ilmunya di daerahnya masing-masing. Maka didirikanlah pondok-pondok pesantren dengan mengikuti pada apa yang mereka dapatkan di Pesantren Ampel.
Mengenai pendirian dan pelembagaan pesantren pertama kali, baru muncul pada pertengahan abad ke-18 M. Dari pesantren-pesantren kuno yang terlacak, pesantren Tegalsari Panaraga yang didirikan tahun 1742 adalah pesantren paling tua. Pada akhir abad 18 M, lembaga pesantren di Jawa semakin bertambah dan mengalami perkembangan pesat. Hal itu terjadi pada rentang abad ke-19 M. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pesantren muncul pada abad ke-18 M dan melembaga pada abad ke-19 M.
Dulu, pusat pendidikan Islam adalah langgar masjid atau rumah sang guru, di mana murid-murid duduk di lantai, menghadapi sang guru, dan belajar mengaji. Waktu mengajar biasanya diberikan pada waktu malam hari biar tidak mengganggu pekerjaan orang tua sehari-hari. Banyaknya murid dan datang dari berbagai daerahlah kemudian dibangun bilik-bilik sederhana untuk ditempati sehari-hari bagi para santri. Pesantren di Jawa masa itu pada umunya jauh dari kota besar atau terletak di pedalaman.[3]
Ada beberapa pendapat mengenai proses lahirnya pesantren, perbedaan pendangan ini dapat dikategorikan menjadi dua pendapat, yaitu:
Pertama, kelompok ini berpendapat bahwa pesantren merupakan hasil kreasi sejarah anak bangsa setelah mengalami persentuhan budaya dengan budaya pra islam. Pesantren merupakan sistem pendidikan islam yang memiliki kesamaan dengan sistem pendidikan Hindu-Budha. Pesantren disamakan dengan asyrama atau mandala dalam khazanah lembaga pendidikan pra islam.
Kedua, kelompok yang berpendapat bahwa pesantren diadopsi dari lembaga pendidikan Islam Timur-Tengah. Kelompok ini berpendapat meragukan kebenaran pendapat yang menyatakan bahwa lembaga pendidikan asyrama dan mandala yang sudah ada sejak zaman Hindu-Budha merupakan tempat berlangsungnya praktek pengajaran tekstual sebagaimana di pesantren. Termasuk dalam kelompok ini adalah Martin Van Bruinessen, salah seorang sarjana Barat yang concern terhadap sejarah perkembangan pesantren di Indonesia.[4]
Martin menjelaskan bahwa pesantren cenderung lebih dekat dengan salah satu model sistem pendidikan di Al Azhar dengan sistem pendidikan riwaq yang didirikan di pada akhir abad ke 18 M.
Menurut Zuhairini (1997:212), tempat-tempat pendidikan Islam nonformal seperti inilah yang “menjadi embrio terbentuknya sistem pendidikan pondok pesantren.” Ini berarti bahwa sistem pendidikan pada pondok pesantren masih hampir sama seperti sistem pendidikan di langgar atau masjid, hanya lebih intensif dan dalam waktu yang lebih lama.
Pada awal rintisannya pesantren tidak hanya menekankan misi pendidikan, melainkan juga dakwah. Bahkan, misi dakwah ini justru lebih menonjol. Lazimnya, baik pesantren yang berdiri pada awal pertumbuhannya maupun pada abad ke-19 dan ke-20, pada awal perjuangannya masih terus menghadapi kerawanan-kerawanan sosial dan polemik keagamaan.
2. Sejarah Pendidikan di Jawa
A. Pendidikan pra Islam
Sistem pendidikan pada masa lalu baru dapat terekam dengan baik pada masa Hindu-Buddha. Menurut Agus Aris Munandar dalam tesisnya yang berjudul Kegiatan Keagamaan di Pawitra Gunung Suci di Jawa Timur Abad 14—15(1990). Sistem pendidikan Hindu-Buddha dikenal dengan istilah karsyan. Karsyan adalah tempat yang diperuntukan bagi petapa dan untuk orang-orang yang mengundurkan diri dari keramaian dunia dengan tujuan mendekatkan diri dengan dewa tertinggi. Karsyan dibagi menjadi dua bentuk yaitu patapan dan mandala.
Patapan memiliki arti tempat bertapa, tempat dimana seseorang mengasingkan diri untuk sementara waktu hingga ia berhasil dalam menemukan petunjuk atau sesuatu yang ia cita-citakan. Ciri khasnya adalah tidak diperlukannya sebuah bangunan, seperti rumah atau pondokan. Bentuk patapan dapat sederhana, seperti gua atau ceruk, batu-batu besar, ataupun pada bangunan yang bersifat artificial. Hal ini dikarenakan jumlah Resi/Rsi yang bertapa lebih sedikit atau terbatas. Tapa berarti menahan diri dari segala bentuk hawa nafsu, orang yang bertapa biasanya mendapat bimbingan khusus dari sang guru, dengan demikian bentuk patapan biasanya hanya cukup digunakan oleh seorang saja.
Istilah kedua adalah mandala, atau disebut juga kedewaguruan. Berbeda dengan patapan, mandala merupakan tempat suci yang menjadi pusat segala kegiatan keagamaan, sebuah kawasan atau kompleks yang diperuntukan untuk para wiku/pendeta, murid, dan mungkin juga pengikutnya. Mereka hidup berkelompok dan membaktikan seluruh hidupnya untuk kepentingan agama dan nagara. Mandala tersebut dipimpin oleh dewaguru.
Berdasarkan keterangan yang terdapat pada kropak 632 yang menyebutkan bahwa ” masih berharga nilai kulit musang di tempat sampah daripada rajaputra (penguasa nagara) yang tidak mampu mempertahankan kabuyutan atau mandala hingga jatuh ke tangan orang lain, dapat diketahui bahwa nagara atau ibu kota atau juga pusat pemerintahan, biasanya dikelilingi oleh mandala. Dalam hal ini, antara mandala dan nagara tentunya mempunyai sifat saling ketergantungan. Nagara memerlukan mandala untuk dukungan yang bersifat moral dan spiritual, mandala dianggap sebagai pusat kesaktian, dan pusat kekuatan gaib.
Dengan demikian masyarakat yang tinggal di mandala mengemban tugas untuk melakukan tapa. Kemakmuran suatu negara, keamanan masyarakat serta kejayaan raja sangat tergantung dengan sikap raja terhadap kehidupan keagamaan. Oleh karena itu, nagara perlu memberi perlindungan dan keamanan, serta sebagai pemasok keperluan yang bersifat materiil (fasilitas dan makanan), agar para pendeta/wiku dan murid dapat dengan tenang mendekatkan diri dengan dewata.
B. Masa Islam Masuk
Sistem pendidikan yang ada pada masa Hindu-Buddha kemudian berlanjut pada masa Islam. Bisa dikatakan sistem pendidikan pada masa Islam merupakan bentuk akulturasi antara sistem pendidikan patapan Hindu-Buddha dengan sistem pendidikan Islam yang telah mengenal istilah uzlah (menyendiri). Akulturasi tersebut tampak pada sistem pendidikan yang mengikuti kaum agamawan Hindu-Buddha, saat guru dan murid berada dalam satu lingkungan permukiman (Schrieke, 1957: 237; Pigeaud, 1962, IV: 484—5; Munandar 1990: 310—311). Pada masa Islam sistem pendidikan itu disebut dengan pesantren atau disebut juga pondok pesantren. Berasal dari kata funduq (funduq=Arab atau pandokheyon=Yunani yang berarti tempat menginap).
Bentuk lainnya adalah, tentang pemilihan lokasi pesantren yang jauh dari keramaian dunia, keberadaannya jauh dari permukiman penduduk, jauh dari ibu kota kerajaan maupun kota-kota besar. Beberapa pesantren dibangun di atas bukit atau lereng gunung Muria, Jawa Tengah. Pesantern Giri yang terletak di atas sebuah bukit yang bernama Giri, dekat Gersik Jawa Timur (Tjandrasasmita, 1984—187). Pemilihan lokasi tersebut telah mencontoh ”gunung keramat” sebagai tempat didirikannya karsyan dan mandala yang telah ada pada masa sebelumnya (De Graaf & Pigeaud, 1985: 187).
Seperti halnya mandala, pada masa Islam istilah tersebut lebih dikenal dengan sebutan ”depok”, istilah tersebut menjadi nama sebuah kawasan yang khas di kota-kota Islam, seperti Yogyakarta, Cirebon dan Banten. Istilah depok itu sendiri berasal dari kata padepokan yang berasal dari kata patapan yang merujuk pada arti yang sama, yaitu “tempat pendidikan. Dengan demikian padepokan atau pesantren adalah sebuah sistem pendidikan yang merupakan kelanjutan sistem pendidikan sebelumnya.
Adanya pesantren di Jawa tidak lepas dari peranana walisongo. Pengaruhnya bisa dipahami karena kesuksesan mereka yang luar biasa dalam mengislamkan secara damai dan rekonsiliasinya dengan nilai dan kebiasaan lokal. Pendekatan walisongo kemudian secara berkesinambungan melalui institusionalisasi pesantren.[5]
C. Peran Walisongo dalam bidang Pendidikan
Sejarah awal berdirinya lembaga pendidikan pondok pesantren tidak lepas dari penyebaran Islam di bumi nusantara, sedangkan asal-usul sistem pendidikan pondok pesantren dikatakan Karel A. Steenberink peneliti asal Belanda berasal dari dua pendapat yang berkembang yaitu; pertama dari tradisi Hindu. Kedua, dari tradisi dunia Islam dan Arab itu sendiri.[1]
Pendapat pertama yang menyatakan bahwa pesantren berasal dari tradisi Hindu berargumen bahwa dalam dunia Islam tidak ada system pendidikan pondok dimana para pelajar menginap di suatu tempat tertentu disekitar lokasi guru. I.J. Brugman dan K. Meys yang menyimpulkan dari tradisi pesantren seperti; penghormatan santri kepada kiyai, tata hubungan keduanya yang tidak didasarkan kepada uang, sifat pengajaran yang murni agama dan pemberian tanah oleh Negara kepada para guru dan pendeta. Gejala lain yang menunjukkan azas non-Islam pesantren tidak terdapat di Negara-negara Islam.[2]
Pendapat kedua yang menyatakan bahwa system pondok pesantren merupakan tradisi dunia Islam menghadirkan bukti bahwa di zaman Abasiah telah ada model pendidikan pondokan. Muhammad Junus, misalnya mengemukakan bahwa model pembelajaran individual seperti sorogan, serta system pengajaran yang dimulai dengan baljar tata bahasa Arab ditemukan juga di Bagdad ketika menjadi pusat ibu kota pemerintahan Islam. Begitu juga mengenai tradisi penyerahan tanah wakaf oleh penguasa kepada tokoh religious untuk dijadikan pusat keagamaan.[3]
Terlepas dari perbedaan para pakar mengenai asal tradisinya, pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Bahkan kita bisa mengatakan bahwa pesantren adalah warisan budaya para pendahulu. Jika pun tradisi pesantren berasal dari Hindu-India atau Arab-Islam, bentuk serta corak pesantren Indonesia memiliki ciri khusus yang dengannya kita bisa menyatakan bahwa pesantren Indonesia adalah asli buatan Indonesia, indigenous.
Sebagaimana telah diketahui bersama bahwa sejarah pesantren setua sejarah penyebaran Islam di Indonesia. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah siapa tokoh yang pertama kali mengakflikasikan system pendidikan pesantren di Indonesia? Nama Maulana Malik Ibrahim pioneer Wali Songo disebut sebagai tokoh pertama yang mendirikan pesantren.
Maulana Malik Ibrahim atau lebih terkenal sebagai Sunan Gresik adalah seorang ulama kelahiran Samarkand, ayahnya Maulana Jumadil Kubro keturunan kesepuluh dari Husein bin Ali. Pada tahun 1404 M, Maulana Malik Ibrahim singgah di desa Leran Gresik Jawa Timur setelah sebelumnya tingal selama 13 tahun di Champa.
Perjalanan Maulana Malik Ibrahin dari Champa ke Jawa adalah untuk mendakwahkan agama Islam kepada para penduduknya. Di Jawa, beliau memulai hidup dengan membuka warung yang menjual rupa-rupa makanan dengan harga murah. Untuk melakukan proses pendekatan terhadap warga, Maulana Malik Ibrahim juga membuka praktek ketabiban tanpa bayaran. Kedermawanan serta kebaikan hati, pedagang pendatang ini membuat banyak warga bersimpati kemudian menyatakan masuk Islam dan berguru ilmu agama kepadanya.
Pengikut Sunan Gresik semakin hari semakin bertambah sehingga rumahnya tidak sanggup menampung murid-murid yang datang untuk belajar ilmu agama Islam. Menyadari hal ini, Maulana Malik Ibrahim yang juga dikenal sebagai Kakek Bantal mulai mendirikan bangunan untuk murid-muridnya menuntut ilmu. Inilah yang menjadi cikal bakal pesantren di Indonesia.[4]
Meski begitu, tokoh yang dianggap berhasil mendirikan dan mengembangkan pesantren dalam arti yang sesungguhnya adalah Raden Rahmat atau Sunan Ampel. Ia mendirikan pesantren pertama di Kembang Kuning kemudian pindah ke Ampel Denta, Surabaya dan mendirikan pesantren kedua di sana.[5] Dari pesantren Ampel Denta ini lahir santri-santri yang kemudian mendirikan pesantren di daerah lain, diantaranya adalah Syekh Ainul Yakin yang mendirikan pesantren di desa Sidomukti, Selatan Gresik dan Maulana makdum Ibrahim yang mendirikan pesantren di Tuban.
Rujukan: [1] MU YAPPI, Manajemen…, hal.26.
[2] H. Rohadi dkk, Rekontruksi…, hal.13.
[3] MU YAPPI, Manajemen…, hal.28.
[4] LIhat, Budiono Hadi Sutrisno, Sejarah Walisongo, hal. 19-20.
[5] LIhat, H. Rohadi dkk, Rekontruksi…, hal.14.

D. Pasca Indonesia Merdeka
Setelah melewati masa-masa sulit akibat penjajahan perang, selanjutnya pesantren memasuki era pascakemerdekaan dan berkiprah di zaman pembangunan. Secara garis besar pendidikan di awal kemerdekaan diupayakan untuk dapat menyamai dan mendekati sistem pendidikan di negara-negara maju, khususnya dalam mengejar keserbaterbelakangan di berbagai sektor kehidupan.
Secara umum pendidikan orde lama sebagai wujud interpretasi pasca kemerdekaan di bawah kendali kekuasaan Soekarno cukup memberikan ruang bebas terhadap pendidikan. Pemerintahan yang berasaskan sosialisme menjadi rujukan dasar bagaimana pendidikan akan dibentuk dan dijalankan demi pembangunan dan kemajuan bangsa Indonesia di masa mendatang. Pada prinsipnya konsep sosialisme dalam pendidikan memberikan dasar bahwa pendidikan merupakan hak semua kelompok masyarakat tanpa memandang kelas sosial.
Pada masa ini Indonesia mampu mengekspor guru ke negara tetangga, dan banyak generasi muda yang disekolahkan di luar negeri dengan tujuan agar mereka kelak dapat kembali ke tanah air untuk mengaplikasikan ilmu yang telah mereka dapat. Tidak ada halangan ekonomis yang merintangi seseorang untuk belajar di sekolah, karena diskriminasi dianggap sebagai tindakan kolonialisme. Pada saat inilah merupakan suatu era di mana setiap orang merasa bahwa dirinya sejajar dengan yang lain, serta setiap orang memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan.
Pada masa ini tek ketinggalan pula pesantren sebagai sebuah institusi pendidikan islam juga turut andil dalam membangun dan memajukan pendidikan di indonesia. Terdapat bukti-bukti sejarah bahwa tidak sedikit putra terbaik bangsa yang ditempa di pesantren. Mereka tidak hanya terlibat dalam perjuangan fisik, tetapi ikut andil bagian dalam mendirikan bangsa dan mengisi era kemerdekaan. Sejalan dengan itu, tidak berlebihan seandainya pada periode tahun 1959-1965 pesantren disebut “alat revolusi” dan penjaga keutuhan Indonesia.
IV. Epilog
Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan islam di jawa sangat dipengaruhi oleh keberadaan Walisongo. Diawali dengan dakwah beliau yang menggunakan pendekatan kultural sehingga segera mendapat sambutan yang baik dari massyarakat kala itu.
Awalnya kegiatan dakwah dan pengajaran dilakukan di langgar atau surau-surau kecil pada malam hari, sehingga tidak mengganggu waktu bekerja dan membantu orang tua di pagi hari. Kegiatan meliputi belajar membaca Al Qur’an, penyampaian ajaran islam dan lainnya. Semakin banyak murid (santri) yang datang dari luar daerahlah yang membuat dibangunnya bilik-bilik untuk ditinggali.
Terlepas dari dinamika sistem sosio-kultural yang berkembang pada masa itu, kuatnya peran wali songo dan ulama dalam mengembangkan ajaran dan spiritualitas keagamaan, telah mendorong masyarakat mengembangkan pesantren sebagai institusi pendidikan publik. Dengan spirit juang yang tinggi, wali songo, para ulama, dan tokoh masyarakat pada masa lampau itu terus bergerak memajukan pemikiran dan pendidikan masyarakat. Dorongan itulah yang lantas melahirkan institusi pesantren dengan berbagai variasi dan keunikannya.
Daftar Pustaka: 1. Steenbrink. A DR Kareel, 1984, Beberapa Aspek tentang Islam di Indonesia Abad ke- 19, Jakarta : PT Bulan Bintang 2. Mughits, Abdul, 2008, Kritik Nalar Fiqh Pesantren, Jakarta : Kencana Prenada Media Group 3. Jamil, Abdul dkk, 2002, Islam dan Kebudayaan Jawa, Jakarta : Gama Media 4. Haedari, HM Amin dkk, 2004, Masa Depan Pesantren Dalam Tantangaan Modernitas dan Tantangan Komplesitas Global, Jakarta : IRD PRESS 5. Mas’ud, Abdurrahman, 2004, Intelektual Pesantren-Perhelatan Agama dan Tradisi, Yogyakarta : LKiS
6.http://serambipesantren.com/2013/02/26/sejarah-pesantren-di-indonesia/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Sebagai pembaca yang baik silakan tinggalkan komentar anda, dan bila anda mengcopy atau memindahkan seluruh atau sebagian dari catatan ini, tolong sertakan link blog ini kedalamnya.
Terimakasih telah berkenan berkunjung.